Harga Emas Bertahan di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Harga emas bertahan dalam zona penguatan terbatas setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata. Optimisme terhadap meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah membantu menenangkan kekhawatiran inflasi global yang sebelumnya meningkat akibat ancaman gangguan pasokan energi. Sentimen pasar mulai membaik seiring munculnya harapan bahwa ketegangan yang sempat memicu volatilitas besar di pasar komoditas dapat dikendalikan melalui jalur diplomasi.

Berdasarkan sumber yang mengetahui proses negosiasi, kedua negara disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus membuka kembali pembicaraan terkait program nuklir Teheran. Meski demikian, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump. Pelaku pasar melihat perkembangan ini sebagai sinyal positif yang dapat mengurangi risiko eskalasi konflik lebih lanjut, terutama setelah serangan udara sebelumnya sempat memicu kekhawatiran gagalnya proses perdamaian.

Pergerakan emas dalam beberapa sesi terakhir cenderung terbatas karena pasar masih menerima sinyal yang saling bertentangan mengenai keberlanjutan gencatan senjata. Setelah sempat mengalami lonjakan tajam pada awal konflik, harga emas kini telah turun hampir 15% sejak akhir Februari. Namun demikian, logam mulia tersebut masih mampu mencatat kenaikan sekitar 1% pada perdagangan Kamis, menunjukkan bahwa permintaan aset safe haven belum sepenuhnya hilang di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Di pasar Asia, harga spot emas bergerak relatif datar di kisaran US$4.496 per ons setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Pelemahan tersebut terjadi ketika serangan udara kembali memicu kekhawatiran bahwa negosiasi damai dapat terganggu sewaktu-waktu. Sementara itu, Bloomberg Dollar Index tercatat stabil setelah melemah 0,2% pada sesi sebelumnya. Stabilitas dolar AS turut memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan posisinya meski tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi masih membayangi pasar.

Fokus investor saat ini tertuju pada dampak transmisi harga energi terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga global. Penutupan efektif Selat Hormuz sebelumnya disebut telah memicu potensi “shock inflasi” global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia. Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna mengendalikan tekanan harga. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, emas biasanya kehilangan sebagian daya tariknya karena tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen berbunga lainnya.

Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat semakin memperkuat dinamika tersebut. Belanja konsumen tercatat naik tipis pada April, sementara inflasi tahunan meningkat ke level tertinggi sejak 2023. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama hanya mencapai annualized rate sebesar 1,6%, lebih lambat dibanding perkiraan sebelumnya. Kombinasi antara inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi menciptakan tantangan baru bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.

Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, risiko gangguan energi global, serta arah inflasi dan suku bunga internasional. Selama ketidakpastian geopolitik dan ekonomi masih membayangi pasar, emas diperkirakan tetap menjadi salah satu aset yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen global. Investor pun akan lebih berhati-hati dalam mengambil posisi sambil menunggu kepastian mengenai stabilitas kawasan Timur Tengah dan langkah kebijakan bank sentral utama dunia.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.