Ketidakpastian Hormuz Kembali Angkat Harga Minyak, Brent Tembus US$83 dan Pasar Waspadai Inflasi

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Asia Jumat, 7 Agustus 2026, setelah pasar meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan permanen untuk membuka kembali Selat Hormuz. Minyak Brent naik sekitar 1,4% menjadi US$83,65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 1,3% ke US$78,32 per barel. Kenaikan ini membalikkan sebagian pelemahan pada sesi sebelumnya dan menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik kembali masuk ke harga minyak.

Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan bahwa Iran berencana membatasi kapal Amerika Serikat dan Israel yang melintasi Selat Hormuz. Teheran juga dikabarkan akan menuntut kompensasi dari negara-negara yang dianggap bermusuhan sebelum memberikan izin melintas. Laporan mengenai serangan terhadap target di dekat pintu masuk selat semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menyalurkan sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar dunia. Setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran di wilayah tersebut langsung memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan. Oleh karena itu, pasar minyak bereaksi cepat terhadap setiap perkembangan keamanan di kawasan Teluk Persia, termasuk laporan yang belum sepenuhnya terkonfirmasi.

Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran inflasi global. Energi merupakan komponen penting dalam biaya transportasi, produksi, dan distribusi, sehingga lonjakan harga minyak berpotensi menekan inflasi kembali naik setelah sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Perubahan ekspektasi inflasi ini langsung tercermin pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,68% setelah naik tujuh basis poin pada sesi sebelumnya. Investor kini menilai apakah kenaikan biaya energi dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Jika harga minyak terus meningkat, tekanan inflasi berbasis energi dapat mempersulit upaya The Fed menurunkan inflasi menuju target 2%.

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat. Konsensus ekonom memperkirakan Nonfarm Payrolls (NFP) Juli bertambah sekitar 80.000 pekerjaan setelah kenaikan 57.000 pada Juni. Data ketenagakerjaan ini menjadi sangat penting karena dapat mengubah ekspektasi suku bunga dan arah pergerakan pasar keuangan global dalam jangka pendek.

Apabila NFP menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan, pasar dapat menilai bahwa ekonomi AS masih cukup solid sehingga The Fed tidak perlu segera melonggarkan kebijakan moneternya. Skenario tersebut berpotensi mendukung penguatan dolar AS dan mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi. Sebaliknya, data yang lemah dapat memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan menekan dolar serta yield Treasury.

Dari sisi pasar valuta asing, kenaikan harga minyak cenderung memberikan dukungan bagi dolar AS melalui jalur ekspektasi inflasi dan suku bunga. Namun, dukungan tersebut dapat terbatas apabila data ekonomi AS menunjukkan pelemahan yang signifikan. Oleh karena itu, pergerakan dolar dalam beberapa sesi mendatang kemungkinan akan dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan Hormuz dan hasil laporan NFP.

Pasar saham global menghadapi tantangan yang lebih besar. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan biaya perusahaan dan menekan margin keuntungan, terutama bagi sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi. Kondisi ini dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko apabila ketegangan Hormuz terus meningkat.

Sementara itu, harga emas bergerak relatif datar. Dukungan dari risiko geopolitik tertahan oleh tingginya imbal hasil obligasi AS dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data NFP. Emas berada di persimpangan antara permintaan safe haven akibat ketegangan Timur Tengah dan tekanan dari potensi suku bunga tinggi yang lebih lama.

Dalam jangka pendek, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan keamanan di Selat Hormuz. Selama ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran tetap tinggi, Brent berpotensi mempertahankan tren penguatannya. Sebaliknya, kemajuan diplomatik yang kredibel dapat kembali menekan harga minyak dengan cepat.

Secara keseluruhan, pasar memasuki fase yang sangat sensitif terhadap berita geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan minyak akibat ketidakpastian Hormuz meningkatkan risiko inflasi, sementara laporan NFP akan menentukan apakah Federal Reserve memiliki ruang untuk mulai melonggarkan kebijakan atau justru mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi kedua faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah minyak, dolar, obligasi, saham, dan emas dalam beberapa hari mendatang.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.