Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, setelah sebelumnya tertekan hingga menyentuh level terendah dalam sekitar satu pekan di kisaran US$4.340 per troy ounce. Emas spot kemudian rebound sekitar 0,3% menuju US$4.368 per troy ounce, didukung oleh pelemahan dolar AS serta meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pergerakan harga emas kali ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya dolar AS. Indeks Dolar AS atau US Dollar Index turun menuju 98,15, sekaligus menjadi level terendah dalam hampir dua pekan. Pelemahan tersebut terjadi ketika yen Jepang menguat akibat meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga serta berlanjutnya aksi unwinding posisi yen carry trade. Kondisi ini memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat karena harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Penguatan yen menjadi salah satu faktor penting yang menekan dolar dalam perdagangan global. Pelaku pasar semakin memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh BoJ, terutama setelah berbagai sinyal menunjukkan bahwa bank sentral Jepang masih memperhatikan risiko kenaikan inflasi. Penguatan yen kemudian memberikan tekanan terhadap dolar, sehingga turut menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi aset berbasis dolar seperti emas.
Selain faktor mata uang, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Konflik yang semakin meluas meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi global. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah kota di Arab Saudi, sementara pasukan Amerika Serikat menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Rangkaian perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung meningkatkan alokasi terhadap aset yang dianggap mampu mempertahankan nilai ketika risiko pasar meningkat. Emas menjadi salah satu instrumen utama yang mendapat manfaat dari perubahan sentimen tersebut, terutama ketika ketidakpastian geopolitik berlangsung bersamaan dengan pelemahan dolar AS.
Kenaikan harga minyak mentah juga memperkuat ketidakpastian di pasar keuangan. Harga minyak Brent bergerak mendekati US$100 per barel, mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat ketegangan geopolitik di kawasan penghasil energi utama dunia. Lonjakan harga minyak tidak hanya meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi, tetapi juga menciptakan risiko baru terhadap inflasi global.
Bagi pasar emas, kenaikan harga minyak menghadirkan situasi yang cukup kompleks. Di satu sisi, minyak yang lebih mahal dan meningkatnya risiko geopolitik dapat memperkuat permintaan safe haven sehingga memberikan dukungan terhadap harga emas. Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong investor memperkirakan bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve, harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve menjadi faktor yang membatasi potensi kenaikan emas. Pasar masih mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed setelah laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang relatif kuat. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi hambatan bagi emas karena meningkatkan imbal hasil aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS sekaligus meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Kondisi tersebut membuat rebound harga emas belum sepenuhnya menunjukkan perubahan tren yang kuat. Kenaikan dari sekitar US$4.340 menuju US$4.368 per troy ounce masih perlu dikonfirmasi oleh perkembangan dolar AS, imbal hasil Treasury AS, serta data inflasi terbaru. Jika dolar kembali menguat dan yield obligasi AS meningkat, tekanan terhadap emas dapat kembali muncul meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian terhadap data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Data Producer Price Index (PPI) pada Kamis dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah tekanan inflasi AS. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve dan pada akhirnya menentukan arah pergerakan dolar serta harga emas.
Jika data inflasi menunjukkan tekanan yang lebih rendah dari perkiraan, peluang dolar untuk kembali melemah dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi emas karena pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Sebaliknya, apabila PPI dan CPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, yield Treasury AS berpotensi meningkat dan dolar dapat kembali memperoleh dukungan, sehingga membatasi ruang penguatan emas.
Dalam jangka pendek, level US$4.400 per troy ounce menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Apabila emas mampu mempertahankan momentum rebound dan menembus area tersebut, peluang penguatan lanjutan dapat terbuka, terutama jika dolar AS terus melemah dan ketegangan Timur Tengah semakin meningkat. Kombinasi pelemahan dolar dan permintaan safe haven dapat menjadi katalis utama bagi emas untuk kembali menguji level resistance berikutnya.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum di atas area US$4.300 dapat meningkatkan risiko tekanan jual kembali. Terutama jika kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi, kemudian mendorong yield Treasury AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Dalam skenario tersebut, emas dapat kembali menghadapi tekanan meskipun ketidakpastian geopolitik masih memberikan dukungan terhadap permintaan safe haven.
Dengan demikian, prospek harga emas pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara faktor geopolitik dan faktor moneter. Konflik Timur Tengah serta pelemahan dolar saat ini menjadi penopang utama rebound emas, tetapi potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan meningkatnya inflasi akibat harga energi menjadi hambatan yang tidak dapat diabaikan. Data PPI dan CPI AS akan menjadi katalis penting untuk menentukan apakah rebound emas menuju US$4.400 per troy ounce dapat berlanjut atau kembali kehilangan momentum.
Sumber : www.newsmaker.id
