Harga Emas Tembus US$4.020, Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Emas Dunia?

Harga emas dunia mengalami tekanan jual tajam pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, dengan emas spot (XAU/USD) turun ke kisaran US$4.025 per troy ounce pada sesi awal Asia. Pelemahan ini membawa harga emas ke level terendah dalam lebih dari dua bulan sekaligus memperpanjang tren penurunan di pasar logam mulia. Kondisi tersebut menarik perhatian karena terjadi ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru meningkat, situasi yang biasanya mendorong investor mencari aset aman atau safe haven, termasuk emas. Namun, kali ini kekhawatiran terhadap dampak konflik terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pergerakan harga.

Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang menekan emas. Serangan mematikan di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global dan memicu risiko kenaikan inflasi akibat melonjaknya biaya bahan bakar. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah bandara di wilayah timur Arab Saudi. Selain itu, sebuah pesawat nirawak dilaporkan berhasil dicegat ketika berupaya menyerang fasilitas pemrosesan minyak Saudi Aramco di ladang minyak Shaybah. Rangkaian insiden tersebut meningkatkan kecemasan pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi, terutama apabila ketegangan regional meluas dan memengaruhi jalur pasokan minyak internasional.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi di Amerika Serikat. Jika biaya energi tetap tinggi, tekanan harga dapat bertahan lebih lama dan membuat Federal Reserve atau The Fed perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat. Prospek tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga diperkirakan bertahan pada level tinggi, instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS cenderung menjadi lebih menarik bagi investor. Akibatnya, biaya peluang untuk memegang emas meningkat dan permintaan terhadap aset tersebut berpotensi melemah, meskipun risiko geopolitik biasanya mendukung permintaan aset lindung nilai.

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas sebesar 92,8% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih diperhitungkan oleh pelaku pasar. Pejabat Federal Reserve Kevin Warsh belum memberikan petunjuk yang jelas mengenai keputusan suku bunga Oktober, sementara data inflasi AS yang lebih tinggi daripada perkiraan tetap menjadi salah satu perhatian utama bank sentral. Perkembangan inflasi dan komunikasi pejabat The Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter berikutnya.

Dalam jangka pendek, harga emas berpotensi tetap berada di bawah tekanan selama harga minyak bertahan tinggi dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS belum mereda. Apabila tekanan jual berlanjut, level psikologis US$4.000 per troy ounce berpotensi menjadi area support penting berikutnya. Penembusan yang meyakinkan di bawah level tersebut dapat memperbesar risiko penurunan lanjutan, terutama jika imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar terus menguat. Sebaliknya, meredanya kekhawatiran inflasi, penurunan harga energi, atau munculnya sinyal kebijakan The Fed yang lebih dovish dapat membuka peluang bagi emas untuk memulihkan sebagian kerugiannya.

Pergerakan emas saat ini memperlihatkan bahwa meningkatnya risiko geopolitik tidak selalu berujung pada kenaikan harga logam mulia. Dampak konflik terhadap harga energi, inflasi, dan ekspektasi suku bunga dapat mengimbangi permintaan aset aman, bahkan mendorong harga emas melemah. Karena itu, level US$4.000 menjadi batas psikologis yang perlu dicermati menjelang keputusan The Fed pekan depan. Kemampuan emas bertahan di atas area tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi peluang stabilisasi harga, sedangkan penurunan di bawahnya dapat menandakan bahwa tekanan bearish masih mendominasi pasar XAU/USD.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.