EUR/USD Melemah ke 1,1650 Menjelang Data Penjualan Ritel dan Inflasi Jerman

Mata uang euro(Getty Images/iStockphoto)

Pasangan mata uang EUR/USD kembali mencatat pelemahan, turun mendekati level 1,1650 pada sesi Asia Jumat pagi setelah tiga hari berturut-turut berada di zona merah. Saat ini, pelaku pasar menantikan rilis data Penjualan Ritel Jerman bulan Juli serta Indeks Harga Konsumen (CPI) awal bulan Agustus, yang akan menjadi katalis penting dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya. Selain itu, perhatian juga akan tertuju pada data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS bulan Juli, yang dijadwalkan rilis di sesi Amerika Utara.

Tekanan terhadap EUR/USD seiring penguatan Dolar AS

Kurs EUR/USD melemah seiring dengan kembalinya sentimen positif terhadap Dolar AS. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal II menjadi pendorong utama, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan meningkat 3,3%, lebih tinggi dari estimasi awal 3,1% dan di atas angka sebelumnya 3,0%. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh meskipun menghadapi tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang ketat.

Namun, penguatan Dolar AS berpotensi terbatas karena muncul kembali sentimen dovish terkait arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan pada hari Kamis bahwa ia mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan September mendatang, dengan kemungkinan penurunan lanjutan dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah pasar tenaga kerja AS jatuh terlalu dalam.

Ketidakpastian politik memperlemah kepercayaan terhadap The Fed

Kekhawatiran pasar meningkat setelah pernyataan kontroversial Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyinggung soal berakhirnya independensi The Fed. Dalam wawancara dengan USA Today, Vance menegaskan bahwa keputusan terkait kebijakan moneter tidak sepenuhnya bisa diserahkan pada teknokrat, melainkan harus melibatkan campur tangan politik melalui Presiden. Komentar ini menimbulkan keraguan investor atas otonomi bank sentral AS, yang selama ini dianggap sebagai pilar stabilitas ekonomi.

Fokus Eropa: Prospek pertumbuhan melemah dan risiko tarif AS

Dari sisi Eropa, risalah rapat bulan Juli Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan bahwa pembuat kebijakan melihat risiko condong ke sisi penurunan dalam dua tahun ke depan. Faktor utama yang membebani adalah melemahnya prospek pertumbuhan dan dampak dari tarif perdagangan AS terhadap ekonomi kawasan Euro. Meski demikian, beberapa anggota dewan juga menyoroti adanya risiko jangka panjang yang bisa bergerak ke sisi kenaikan, khususnya terkait ketidakpastian harga energi dan fluktuasi mata uang.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pergerakan EUR/USD masih berada di bawah tekanan, dengan pasar menunggu data ekonomi penting dari Jerman dan Amerika Serikat. Jika data inflasi Jerman menunjukkan pelemahan, sementara data PCE AS tetap kuat, maka Dolar AS berpotensi mempertahankan momentumnya. Namun, ketidakpastian politik di AS serta arah kebijakan The Fed bisa menjadi faktor penahan penguatan lebih lanjut. Level 1,1650 menjadi area kunci yang diawasi para trader, di mana penembusan ke bawah bisa membuka ruang bagi pelemahan yang lebih dalam.

Sumber : newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.