Dolar Amerika Serikat mencatat penguatan mingguan terbaiknya dalam hampir tiga tahun terhadap mata uang utama lainnya, menyusul langkah Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif impor baru terhadap puluhan mitra dagang. Langkah ini langsung memperkuat posisi dolar, memicu gejolak di pasar valuta asing global, serta memicu intervensi verbal dari beberapa negara yang terdampak.
Tarif Baru Dorong Reli Dolar AS
Trump secara mengejutkan meningkatkan tarif terhadap berbagai negara, mengubah ancaman menjadi kebijakan konkret yang langsung berdampak pada nilai tukar. Dolar AS melonjak tajam, didorong oleh langkah-langkah kebijakan ini serta faktor-faktor non-tarif lain. Indeks dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama termasuk euro, yen, franc Swiss, dan dolar Kanada—naik 0,1% pada hari Jumat menjadi 100,14. Ini adalah level tertinggi sejak 29 Mei dan menandai kenaikan mingguan sebesar 2,5%, performa terbaik sejak lonjakan 3,1% pada September 2022.
Yen Terpuruk, Pemerintah Jepang Siaga
Yen Jepang tergelincir ke level terendah dalam empat bulan setelah Bank of Japan mengisyaratkan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Hal ini memicu peringatan dari Menteri Keuangan Jepang, Katsunobu Kato, yang menyatakan bahwa pihak berwenang “prihatin” terhadap pergerakan tajam mata uang. Yen terakhir diperdagangkan di level 150,725 per dolar, setelah sempat menyentuh 150,915—terlemah sejak 28 Maret.
Mata Uang Global Terkapar Akibat Tarif Trump
Langkah Trump yang menaikkan tarif secara selektif memukul keras beberapa mata uang. Dolar Kanada, misalnya, terkena bea 35%, lebih tinggi dari ancaman awal sebesar 25%. Hal ini membuat loonie melemah 0,12% ke posisi C$1,3872 terhadap dolar AS, level terendah sejak 22 Mei.
Franc Swiss juga ikut melemah hingga 0,26% menjadi 0,8120 per dolar setelah tarif terhadap impor Swiss dinaikkan menjadi 39% dari rencana sebelumnya sebesar 31%.
Asia Tak Luput dari Tekanan
Mata uang Asia juga mengalami tekanan signifikan. Peso Filipina merosot ke level terendah dalam enam bulan, sementara dolar Taiwan jatuh ke titik terendah sejak awal Juni. Won Korea Selatan ikut terseret, melemah ke posisi terlemah sejak pertengahan Mei, meskipun negara itu baru saja menyelesaikan kesepakatan dagang dengan AS pada Rabu malam.
Euro Tetap Tertekan oleh Ketimpangan Perjanjian Dagang
Di Eropa, euro tetap berada di sekitar level terendah dua bulan di $1,1412. Pasar melihat kesepakatan dagang antara Uni Eropa dan Washington sebagai tidak seimbang, yang membuat tekanan terhadap euro terus berlanjut. Level tersebut mendekati posisi terendah hari Rabu di $1,1401, yang merupakan titik terlemah sejak 10 Juni.
Kesimpulan: Dominasi Dolar dan Ketidakpastian Global
Langkah proteksionis yang diambil oleh Presiden Trump tidak hanya memicu reli besar pada dolar AS, tetapi juga menciptakan ketidakpastian dan volatilitas besar di pasar mata uang global. Ketegangan geopolitik akibat kebijakan perdagangan ini berpotensi menciptakan guncangan jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi internasional, terutama di negara-negara yang mengalami pelemahan mata uang secara signifikan.
Penting bagi pelaku pasar untuk memantau dengan cermat perkembangan kebijakan ekonomi AS ke depan, karena dinamika ini dapat menjadi penentu arah pasar global dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber : newsmaker.id
