Stok Minyak AS Melonjak, Namun Harga Minyak Tetap Kuat: Ini Alasannya

Harga minyak global kembali menunjukkan ketahanan meskipun data terbaru mengungkap lonjakan signifikan pada stok minyak mentah Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis pagi, harga minyak justru bergerak naik tipis karena pasar kembali memasukkan faktor “risk premium” yang berasal dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama risiko gangguan jalur pengiriman dan potensi eskalasi militer di kawasan Timur Tengah yang strategis bagi pasokan energi global.

Pada pukul 12.55 WIB, harga Brent tercatat di kisaran US$69,55 per barel atau naik sekitar 0,22 persen, sementara WTI berada di level US$64,82 per barel atau menguat 0,29 persen. Kenaikan ini mencerminkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor risiko geopolitik dibandingkan data fundamental jangka pendek.

Fokus utama pasar tertuju pada dinamika negosiasi yang masih penuh ketidakpastian. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa belum ada keputusan “definitif” setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, Washington menegaskan bahwa jalur diplomasi dengan Teheran masih terbuka. Kondisi ini menciptakan penilaian risiko dua arah di pasar minyak: di satu sisi terdapat peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, tetapi di sisi lain skenario keras tetap terbuka jika pembicaraan mengalami kebuntuan. Ketidakpastian inilah yang menjaga premi risiko tetap hidup di harga minyak.

Di sisi fundamental, faktor yang menahan kenaikan harga lebih lanjut datang dari data persediaan. Laporan mingguan dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS melonjak sekitar 8,5 juta barel menjadi sekitar 428,8 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar. Lonjakan ini mengindikasikan kembalinya pasokan domestik AS yang agresif, sebuah sinyal yang secara teori bersifat bearish bagi harga minyak. Oleh karena itu, penguatan harga saat ini lebih mencerminkan dorongan berbasis risiko dibandingkan keseimbangan pasokan dan permintaan murni.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pembaruan proyeksi dari lembaga energi global dan para produsen utama. Laporan bulanan OPEC serta proyeksi dari International Energy Agency (IEA) kerap menjadi penentu apakah pasar minyak pada 2026 akan menghadapi surplus yang lebih jelas atau tetap berada dalam kondisi pasokan fisik yang ketat. Faktor geopolitik tetap menjadi variabel krusial, terutama jika terjadi gangguan ekspor atau jalur distribusi dari kawasan Timur Tengah.

Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini berada dalam zona tarik-menarik yang intens. Berita seputar Iran menjaga premi risiko tetap tinggi, sementara lonjakan stok minyak AS membatasi ruang kenaikan harga lebih jauh. Selama belum ada kepastian arah diplomasi, volatilitas diperkirakan akan terus berlanjut, dan pasar akan bereaksi cepat terhadap setiap sinyal eskalasi maupun de-eskalasi ketegangan geopolitik.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.