Harga emas kembali stabil setelah mengalami penurunan tajam yang dipicu oleh aksi jual luas di pasar keuangan global, sebuah pergerakan yang diduga diperparah oleh aktivitas perdagangan algoritmik. Logam mulia ini sempat tertekan kuat seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap volatilitas lintas aset, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sentimen makro dan teknologi.
Pada perdagangan awal, emas batangan berada di kisaran US$4.920 per ons setelah anjlok 3,2% pada sesi sebelumnya, penurunan harian terbesar dalam sepekan. Kejatuhan mendadak tersebut terjadi seiring kegelisahan di Wall Street, di mana harga aset melemah serentak akibat kekhawatiran bahwa adopsi kecerdasan buatan dapat menekan kinerja laba perusahaan. Tekanan ini memicu aksi jual berbasis sistem yang bergerak cepat, memperbesar amplitudo penurunan harga.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini, karena berpotensi membentuk ekspektasi arah kebijakan Federal Reserve. Data ketenagakerjaan Januari yang solid, dirilis awal pekan, mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga lanjutan pada pertengahan tahun. Bagi emas, prospek suku bunga yang lebih rendah merupakan katalis positif, mengingat aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga lebih menarik saat biaya peluang menurun.
Penurunan dramatis pada Kamis lalu—tanpa pemicu fundamental yang jelas—kemungkinan diperkuat oleh aksi jual dari penasihat perdagangan komoditas yang mengandalkan model komputer untuk menangkap momentum harga, menurut Michael Ball, ahli strategi makro di Bloomberg. Tekanan juga datang dari aksi ambil untung, terutama setelah emas dan perak sempat memulihkan sebagian kerugian pasca gejolak besar di awal bulan, membuat pola perdagangan menjadi tidak stabil.
Meski demikian, prospek jangka menengah hingga panjang emas tetap konstruktif. Sejumlah bank global memperkirakan tren kenaikan akan berlanjut sepanjang tahun ini, didorong oleh faktor-faktor struktural yang masih utuh seperti ketegangan geopolitik, pertanyaan atas independensi bank sentral AS, serta pergeseran alokasi aset menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah. BNP Paribas SA memproyeksikan harga emas mencapai US$6.000 per ons pada akhir tahun, sejalan dengan pandangan optimistis dari Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc..
Pada perdagangan spot, harga emas naik tipis 0,1% menjadi US$4.940,79 per ons pada pukul 08.28 waktu Singapore. Perak menguat 0,6% ke US$75,88 per ons, sementara platinum dan paladium turut mencatatkan kenaikan. Pergerakan ini menandai upaya pasar menyeimbangkan kembali posisi setelah guncangan tajam, dengan investor kini menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan stabilitas sentimen global.
Sumber : www.newsmaker.id
