Harga perak (XAG/USD) menghentikan reli empat hari dan bergerak stabil di kisaran $87,50 per troy ounce pada sesi Asia hari Selasa. Meskipun momentum jangka pendek mulai mereda, prospek penguatan lebih lanjut tetap terbuka lebar. Permintaan terhadap aset safe haven masih solid di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan global dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Dalam lanskap pasar yang sensitif terhadap sentimen risiko, perak kembali menunjukkan daya tahannya sebagai instrumen lindung nilai yang strategis.
Dari sisi kebijakan perdagangan, laporan dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan penerapan tarif keamanan nasional pada enam sektor industri melalui Section 232 dalam Trade Expansion Act. Kebijakan ini muncul setelah keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan sejumlah tarif sebelumnya. Meskipun kebijakan Section 232 disebut terpisah dari tarif global 15% yang telah diumumkan, langkah tersebut tetap menambah ketidakpastian baru di pasar. Pelaku pasar meragukan keberlanjutan kebijakan ini, terutama jika tidak diperpanjang setelah batas waktu 150 hari, sehingga menciptakan tekanan psikologis tambahan terhadap prospek perdagangan internasional.
Respons dari mitra dagang utama mulai terlihat. Uni Eropa memberi sinyal kemungkinan penundaan ratifikasi kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Sementara itu, negosiasi perdagangan antara India dan AS untuk merampungkan pakta sementara juga mengalami penundaan, seiring restrukturisasi strategi tarif Washington. Dinamika ini mempertahankan sentimen risk-off di pasar global, kondisi yang secara historis mendukung kenaikan harga logam mulia seperti perak dan emas.
Dari perspektif geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan potensi serangan terhadap Iran. Namun, Oman mengonfirmasi bahwa putaran ketiga perundingan antara AS dan Iran tetap akan berlangsung pekan ini di Jenewa, memberikan sedikit kelegaan bagi pasar yang khawatir terhadap eskalasi konflik berkepanjangan. Kombinasi antara ancaman tarif perdagangan dan risiko geopolitik ini menciptakan lingkungan yang mendukung permintaan terhadap aset defensif.
Secara fundamental, perak tidak hanya diuntungkan oleh statusnya sebagai safe haven, tetapi juga oleh perannya dalam sektor industri, termasuk energi terbarukan dan teknologi. Namun dalam jangka pendek, pergerakan harga cenderung lebih dipengaruhi oleh arus sentimen global dan perkembangan kebijakan. Volatilitas tetap menjadi karakter utama, terutama ketika pasar merespons tajuk berita terbaru terkait tarif atau ketegangan geopolitik.
Dengan latar belakang ketidakpastian perdagangan, kebijakan proteksionis, serta dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya stabil, harga perak memiliki fondasi kuat untuk tetap bertahan di level tinggi. Investor yang mencari perlindungan nilai di tengah gejolak global kemungkinan akan terus melirik perak sebagai bagian penting dari strategi diversifikasi portofolio mereka.
Sumber : www.newsmaker.id
