Harga emas kembali menunjukkan penguatan signifikan setelah mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang menekan nilai dolar AS. Logam mulia ini sempat menyentuh level sekitar $5.180 per ons, memanfaatkan pelemahan greenback yang membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Kondisi ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah dinamika ekonomi global yang semakin tidak stabil.
Pemicu utama pergerakan ini berasal dari manuver tarif yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Setelah US Supreme Court menolak penggunaan tarif darurat, Trump merespons dengan mengumumkan tarif global sebesar 15%. Langkah ini memicu kekhawatiran baru mengenai arah kebijakan perdagangan AS dan stabilitas hubungan dagang internasional. Putusan pengadilan tersebut juga memperkuat keraguan pasar terhadap ketahanan kesepakatan perdagangan AS dengan sejumlah mitra utama.
Di Eropa, pejabat perdagangan dari European Parliament mempertimbangkan penundaan ratifikasi kesepakatan dagang dengan AS, mencerminkan meningkatnya skeptisisme terhadap komitmen kebijakan Washington. Sementara itu, India dilaporkan menunda pertemuan dagang dengan AS, dan Japan bahkan menyebut situasi kebijakan perdagangan saat ini sebagai “chaotic” atau kacau. Ketidakpastian lintas kawasan ini menciptakan tekanan tambahan di pasar keuangan global dan semakin memperkuat daya tarik emas.
Reli harga emas kali ini juga menandai pemulihan dari koreksi tajam pada awal bulan yang sempat menyeret harga turun dari level tertinggi sepanjang masa. Secara struktural, tren kenaikan emas masih ditopang oleh beberapa faktor fundamental kuat, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, kehati-hatian investor terhadap obligasi pemerintah, serta bertambahnya keraguan terhadap stabilitas mata uang utama dunia. Dalam konteks ini, emas kembali dipandang sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang efektif untuk melindungi nilai aset.
Namun demikian, volatilitas pasar tetap berada pada level tinggi. Selain drama tarif perdagangan, risiko geopolitik di Timur Tengah turut menjadi katalis signifikan. Ketegangan antara United States dan Iran terkait program nuklir Teheran masih memanas, sementara peningkatan kehadiran militer AS di kawasan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran akan eskalasi konflik. Situasi ini memperkuat sentimen risk-off di pasar global, yang biasanya berdampak positif terhadap harga emas.
Pada perdagangan Senin, emas tercatat naik sekitar 1,3% menjadi $5.174,75 per ons. Indeks dolar versi Bloomberg melemah 0,2%, mempertegas hubungan terbalik antara dolar AS dan harga emas. Sementara itu, perak melonjak 3,4% ke level $87,53 per ons, dan logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Kombinasi pelemahan dolar, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta risiko geopolitik yang meningkat menjadi fondasi utama reli emas saat ini.
Dalam lanskap ekonomi global yang sarat ketidakpastian, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven. Selama tekanan terhadap dolar AS dan dinamika geopolitik masih berlanjut, potensi kenaikan harga emas tetap terbuka lebar, menjadikannya instrumen investasi yang semakin relevan bagi pelaku pasar yang mengutamakan stabilitas dan perlindungan nilai jangka panjang.
Sumber : www.newsmaker.id
