Harga emas kembali melanjutkan reli kuatnya pada perdagangan Kamis, mendekati level psikologis $5.200 per ons seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Dalam enam sesi terakhir, logam mulia ini telah menguat hampir 6%, mencerminkan lonjakan permintaan aset safe haven di tengah pasar global yang cenderung menghindari risiko. Kenaikan ini menegaskan kembali peran emas sebagai lindung nilai utama saat volatilitas dan ketidakpastian meningkat di panggung global.
Dukungan signifikan terhadap harga emas datang dari meningkatnya tekanan Washington terhadap Iran menjelang putaran terbaru perundingan nuklir di Jenewa. Pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 entitas yang dituduh mendukung penjualan minyak dan senjata Iran. Langkah ini, ditambah dengan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan tersebut, mempertahankan premi risiko geopolitik pada level tinggi. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap aman, sehingga permintaan emas meningkat secara konsisten.
Di sisi perdagangan internasional, ketidakpastian semakin dalam setelah tarif global sebesar 10% resmi diberlakukan pada Selasa, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan skema tarif “resiprokal” sebelumnya. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump akan menandatangani arahan untuk menaikkan tarif global hingga 15% “jika diperlukan”. Pernyataan tersebut memicu penilaian ulang pasar terhadap potensi eskalasi perang dagang dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global. Kondisi ini secara tidak langsung memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko kebijakan dan ketidakstabilan ekonomi.
Sejumlah analis menilai bahwa pergerakan harga emas saat ini merupakan bentuk penyesuaian harga akibat kombinasi ketidakpastian tarif dan risiko geopolitik baru. Meskipun tren jangka pendek masih menunjukkan momentum positif, emas berpotensi memasuki fase konsolidasi dua arah. Pelaku pasar kini juga mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga The Fed serta pergerakan dolar AS. Indeks Dolar Bloomberg yang melemah tipis memberikan ruang tambahan bagi emas untuk mempertahankan level tinggi, karena pelemahan dolar biasanya meningkatkan daya tarik logam mulia bagi investor global.
Secara keseluruhan, harga emas telah melonjak hampir 20% sepanjang tahun ini dan kembali bertengger di atas $5.000 per ons setelah sempat terkoreksi tajam dari rekor $5.595 pada akhir Januari. Selain faktor tarif dan geopolitik, kekhawatiran terhadap potensi intervensi pemerintah dalam kebijakan Federal Reserve turut memperkuat narasi lindung nilai. Pada pukul 09:19 waktu Singapura, harga emas spot tercatat naik 0,5% menjadi $5.188,76 per ons. Sementara itu, perak menguat 0,9% ke $89,99, dan platinum serta paladium juga mengalami kenaikan.
Melihat dinamika yang ada, prospek harga emas tetap didukung oleh kombinasi ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta arah kebijakan moneter AS. Selama risiko global masih tinggi dan dolar tidak menunjukkan penguatan signifikan, peluang emas untuk menguji kembali level $5.200 bahkan melampauinya tetap terbuka. Bagi investor, fase ini menjadi momentum krusial untuk mencermati strategi lindung nilai dan diversifikasi portofolio di tengah lanskap ekonomi global yang terus berubah.
Sumber : www.newsmaker.id
