Harga minyak dunia bergerak stabil setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat melanjutkan perundingan nuklir pekan depan, menyusul putaran diskusi terbaru yang berlangsung pada Kamis. Meskipun jalur diplomasi tetap terbuka, pasar energi global masih menunjukkan sikap hati-hati karena pengerahan besar pasukan AS di Timur Tengah menjaga sentimen tetap tegang dan penuh ketidakpastian. Kombinasi diplomasi dan risiko militer ini membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi agresif.
Di pasar komoditas, Brent diperdagangkan di bawah US$71 per barel setelah ditutup hampir tidak berubah pada sesi sebelumnya, sementara WTI bertahan di kisaran US$65 per barel. Iran menyatakan bahwa pembicaraan terbaru di Jenewa menunjukkan kemajuan yang baik. Namun, sumber yang memahami posisi delegasi AS mengindikasikan adanya kekecewaan dari pihak Amerika. Kedua negara sepakat untuk melanjutkan pertemuan berikutnya di Wina, yang kini menjadi fokus utama pasar dalam menilai arah risiko geopolitik dan dampaknya terhadap pasokan energi global.
Tekanan di pasar minyak memang sedikit mereda dalam sepekan terakhir, tetapi harga masih relatif tinggi secara tahunan. Kekhawatiran akan potensi serangan AS terhadap Iran menjadi faktor penyeimbang terhadap ekspektasi surplus pasokan global. Investor juga mencermati pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada Minggu, karena keputusan terkait kebijakan produksi April berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar. Risiko konflik yang masih membayangi membuat prospek harga tetap diliputi ketidakpastian, terutama jika ketegangan berubah menjadi gangguan pasokan riil.
Analis Haris Khurshid dari Karobaar Capital menilai bahwa situasi saat ini minim “kejutan baru”. Baik diplomasi maupun eskalasi tetap memiliki peluang yang sama. Dalam kondisi di mana probabilitas geopolitik berubah tetapi pasokan fisik belum terdampak secara nyata, harga minyak cenderung bergerak sideways atau berfluktuasi tanpa membentuk tren yang jelas. Pola ini mencerminkan pasar yang menunggu katalis konkret sebelum menentukan arah berikutnya.
Dari sisi keamanan, laporan Fox News menyebutkan bahwa pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain telah diturunkan statusnya menjadi personel “mission-critical” di tengah kekhawatiran potensi serangan. Langkah ini kembali menegaskan bahwa risiko geopolitik masih menjadi pendorong utama volatilitas harga minyak. Selama ancaman konflik belum sepenuhnya mereda, premi risiko kemungkinan tetap tertanam dalam harga.
Dalam perdagangan Asia, kontrak Brent April yang akan jatuh tempo pada Jumat diperdagangkan stabil di sekitar US$70,70 per barel pada pukul 12:01 waktu Singapura. Kontrak Brent Mei bertahan di sekitar US$70,83 per barel, sementara WTI April relatif datar di kisaran US$65,27 per barel. Pergerakan ini menegaskan bahwa pasar minyak global saat ini berada dalam fase konsolidasi, dengan fokus tertuju pada kelanjutan perundingan AS–Iran serta keputusan OPEC+ yang dapat menentukan arah harga dalam jangka pendek hingga menengah.
Sumber : www.newsmaker.id
