Harga minyak dunia kembali melanjutkan penguatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata dengan Iran dan menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran. Pernyataan tersebut memperpanjang ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah sekaligus mempertahankan gangguan distribusi energi global melalui Selat Hormuz yang kini disebut pasar berada dalam kondisi “nyaris tertutup.”
Minyak Brent diperdagangkan mendekati level US$105 per barel setelah sebelumnya melonjak sekitar 2,9%, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar US$99 per barel. Pada perdagangan Selasa sore waktu Singapura, Brent kontrak Juli naik 0,9% menjadi US$105,15 per barel, sedangkan WTI kontrak Juni menguat 1,1% ke level US$99,11 per barel.
Kenaikan harga minyak didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Dalam pernyataannya di Oval Office, Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “massive life support” atau sangat rapuh. Ia juga kembali mengkritik respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 minggu terakhir.
Walaupun gencatan senjata secara teknis masih berlaku sejak awal April dan sejauh ini mampu bertahan meskipun terjadi beberapa insiden keamanan, gangguan di Selat Hormuz tetap menekan arus distribusi minyak, gas, dan bahan bakar ke pasar global. Situasi ini memperbesar kekhawatiran investor terhadap potensi krisis inflasi baru akibat melonjaknya biaya energi dan logistik internasional.
Menurut sumber yang memahami pembicaraan tersebut, Iran meminta Amerika Serikat mencabut blokade laut serta melonggarkan sanksi ekonomi, namun tetap mempertahankan sebagian kendali terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. Tuntutan tersebut dinilai menjadi hambatan besar dalam proses negosiasi damai dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan komprehensif dalam waktu dekat.
Bloomberg Economics menilai peluang terciptanya perjanjian damai penuh masih relatif kecil, sementara risiko kembalinya konflik bersenjata tetap terbuka. Meski demikian, lembaga tersebut memperkirakan intensitas konflik kemungkinan akan berfluktuasi sebelum akhirnya bergerak menuju pola konflik berkepanjangan dengan intensitas yang lebih rendah.
Di Washington, laporan dari Axios menyebut Trump akan mengadakan pertemuan dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas perkembangan perang, termasuk kemungkinan melanjutkan kembali aksi militer. Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali rencana pengawalan kapal melalui Selat Hormuz guna menjaga keamanan jalur perdagangan energi internasional.
Di dalam negeri Amerika Serikat, lonjakan harga bahan bakar mulai meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Trump menjelang pemilu sela November mendatang. Kenaikan harga energi berpotensi memperburuk inflasi konsumen dan menekan daya beli masyarakat, sehingga pemerintah AS kembali melepas cadangan minyak darurat guna membantu meredam kenaikan harga pasar.
Sementara itu, Saudi Aramco menyatakan bahwa pasar global saat ini kehilangan sekitar 100 juta barel pasokan per minggu akibat gangguan di Selat Hormuz. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya dampak konflik terhadap rantai pasok energi internasional.
Meski harga minyak masih bergerak tinggi, beberapa indikator pasar mulai menunjukkan pelemahan momentum. Spread prompt Brent yang sebelumnya mendekati US$10 per barel pada awal bulan lalu kini menyempit menjadi sekitar US$4 per barel dalam kondisi backwardation. Penyempitan spread ini mencerminkan mulai berkurangnya tekanan pembelian jangka pendek karena sejumlah kilang minyak mulai menekan volume pembelian akibat tingginya harga energi.
Pasar kini berada dalam posisi yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan energi global. Selama ketidakpastian mengenai hubungan AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi. Investor juga terus memantau apakah langkah diplomasi dapat meredakan krisis atau justru membuka peluang eskalasi baru yang berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi lagi dalam waktu dekat.
Sumber : www.newsmaker.id
