Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut seiring meningkatnya keraguan pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat. Ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi kawasan Teluk Persia mendorong investor untuk kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi global, sehingga menopang kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional. Minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati level US$95 per barel setelah mencatat kenaikan lebih dari 7% dalam dua sesi sebelumnya, sementara Brent ditutup di sekitar US$96 per barel.
Kenaikan harga minyak saat ini didorong oleh kombinasi dua faktor utama, yaitu mandeknya proses negosiasi diplomatik dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Laporan mengenai berlanjutnya serangan Israel di Lebanon memunculkan kekhawatiran bahwa konflik regional dapat mengganggu upaya diplomasi yang telah berlangsung lama antara Washington dan Teheran. Meskipun putaran baru perundingan Israel-Lebanon dijadwalkan berlangsung pada hari Rabu dan Presiden Donald Trump tetap menyatakan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan sementara dengan Iran, pasar cenderung mengambil sikap hati-hati karena perkembangan di lapangan masih menunjukkan eskalasi ketegangan.
Fokus utama pelaku pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Ketidakpastian mengenai perpanjangan gencatan senjata dan normalisasi arus ekspor minyak dari kawasan Teluk telah menciptakan kekhawatiran baru mengenai pasokan global. Selama belum ada kepastian mengenai pemulihan ekspor secara penuh, pasar harus mempertimbangkan kemungkinan berlanjutnya penurunan cadangan minyak dunia untuk menutupi kekurangan pasokan yang masih terjadi akibat gangguan produksi dan distribusi di kawasan tersebut.
Kekhawatiran terhadap pasokan semakin diperkuat oleh proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan pemulihan produksi minyak Timur Tengah akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan awal. TD Securities memperkirakan kapasitas produksi kawasan tersebut kemungkinan baru kembali ke tingkat sebelum konflik pada periode Oktober hingga November. Dalam rentang waktu tersebut, persediaan minyak global diproyeksikan mengalami penurunan signifikan akibat tingginya permintaan yang tidak diimbangi pemulihan pasokan secara memadai. Jika skenario ini terjadi, harga Brent berpotensi mempertahankan tren tinggi sepanjang paruh kedua tahun ini, bahkan membuka peluang lonjakan harga yang lebih tajam apabila terjadi gangguan pasokan tambahan di kawasan.
Situasi keamanan di lapangan turut memperburuk sentimen pasar. Laporan menyebutkan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain, meskipun sebagian besar berhasil dihancurkan atau dicegat sebelum mencapai target. Di sisi lain, militer Amerika Serikat melaporkan adanya serangan terhadap Pulau Qeshm yang semakin meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Peristiwa-peristiwa tersebut memperkuat persepsi bahwa risiko konflik yang lebih luas masih belum sepenuhnya mereda, sehingga premi risiko geopolitik kembali tercermin dalam harga minyak.
Volatilitas yang sangat tinggi juga memengaruhi perilaku investor dan pelaku pasar energi. Banyak peserta pasar memilih mengurangi eksposur mereka karena pergerakan harga dinilai terlalu sensitif terhadap perkembangan berita dan peristiwa geopolitik harian. Minat terbuka (open interest) kontrak Brent dilaporkan turun ke level terendah sejak Agustus, menunjukkan bahwa sebagian besar investor memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali mengambil posisi yang lebih agresif.
Secara keseluruhan, prospek harga minyak dalam jangka pendek masih cenderung didominasi oleh faktor geopolitik dibandingkan fundamental permintaan. Selama negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kemajuan yang signifikan serta ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi, risiko gangguan pasokan akan terus menjadi faktor utama yang menopang harga minyak dunia. Kondisi ini membuat pasar energi global berada dalam fase yang sangat sensitif, di mana setiap perkembangan diplomatik maupun militer berpotensi memicu perubahan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
Sumber : www.newsmaker.id
