Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis setelah muncul perkembangan positif dari Timur Tengah, di mana Israel dan Lebanon mencapai kesepakatan gencatan senjata bersyarat yang dipandang sebagai langkah awal menuju meredanya konflik regional. Kesepakatan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global dan mendorong investor kembali masuk ke pasar logam mulia setelah penurunan yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Emas sempat melonjak sekitar 1% hingga menyentuh level US$4.475 per ons sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Penguatan ini terjadi ketika para pembeli memanfaatkan area harga yang lebih rendah untuk kembali mengakumulasi posisi, terutama setelah tekanan jual yang sempat muncul akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi. Kembalinya minat beli menunjukkan bahwa emas masih mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Kesepakatan gencatan senjata diumumkan melalui pernyataan bersama antara Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat. Dalam kesepakatan tersebut, seluruh pihak menuntut penghentian tembakan secara menyeluruh, termasuk dari kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Langkah ini dipandang sebagai upaya terbaru Washington untuk menjaga jalur diplomasi dengan Teheran tetap terbuka setelah serangkaian bentrokan pada hari sebelumnya mengancam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Perkembangan tersebut memberikan secercah optimisme bahwa konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang kawasan Timur Tengah dapat mulai mereda. Namun, pasar masih menilai bahwa jalan menuju penyelesaian yang lebih permanen masih panjang dan penuh tantangan. Oleh karena itu, reaksi positif yang muncul di pasar emas sejauh ini masih tergolong hati-hati dan belum menunjukkan perubahan tren yang signifikan.
Perhatian investor saat ini tetap tertuju pada pembahasan mengenai perpanjangan gencatan senjata dan upaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi perdagangan energi global. Meskipun kerangka awal kesepakatan telah tersedia, perundingan final masih menghadapi berbagai hambatan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu dekat setelah Iran menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Namun, hingga kini Teheran masih menolak beberapa syarat utama yang diajukan dalam perundingan tersebut.
Ketidakjelasan mengenai masa depan Selat Hormuz membuat pasar tetap waspada terhadap risiko gangguan pasokan energi. Selama aliran minyak dan gas melalui jalur tersebut belum kembali normal, kekhawatiran terhadap inflasi global masih akan bertahan. Kondisi ini berpotensi memaksa bank sentral utama dunia untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari yang diharapkan pasar.
Bagi emas, situasi tersebut menciptakan dinamika yang kompleks. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi biasanya mendukung permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun di sisi lain, suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Secara historis, emas berada dalam posisi yang cukup rapuh sejak konflik Timur Tengah meletus pada akhir Februari. Harga emas sempat mengalami tekanan signifikan dan hingga saat ini masih berada sekitar 15% di bawah level sebelum perang. Meskipun dalam beberapa pekan terakhir pergerakannya cenderung stabil dalam rentang yang relatif sempit, pasar masih belum menemukan katalis yang cukup kuat untuk mendorong tren kenaikan yang berkelanjutan.
Koreksi harga minyak setelah munculnya kabar gencatan senjata Israel-Lebanon turut memberikan dukungan tambahan bagi emas. Penurunan harga energi membantu meredakan tekanan terhadap imbal hasil obligasi dan dolar AS dalam jangka pendek. Ketika yield obligasi dan dolar melemah, emas biasanya mendapatkan ruang untuk menguat karena menjadi lebih menarik bagi investor global.
Meski demikian, banyak analis menilai bahwa pemulihan emas masih memiliki keterbatasan tanpa adanya solusi geopolitik yang lebih komprehensif. Pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan moneter Amerika Serikat, yang saat ini menjadi salah satu faktor paling berpengaruh terhadap arah pergerakan logam mulia.
Sejumlah pejabat Federal Reserve masih menunjukkan sikap hawkish terhadap inflasi. Salah satu pejabat The Fed, Lorie Logan, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin masih diperlukan apabila inflasi gagal kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS belum sepenuhnya siap beralih ke kebijakan yang lebih longgar.
Ekspektasi bahwa suku bunga dapat tetap tinggi atau bahkan kembali dinaikkan menjadi tantangan besar bagi pasar emas. Selama investor masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, potensi reli emas yang kuat dan berkelanjutan cenderung terbatas. Oleh karena itu, setiap kenaikan harga saat ini masih dipandang sebagai pemulihan jangka pendek dibandingkan awal dari tren bullish yang lebih besar.
Pada perdagangan Asia pukul 11.45 waktu Singapura, harga emas spot tercatat naik 0,6% ke level US$4.460,20 per ons. Logam mulia lainnya juga mengikuti tren positif, dengan harga perak meningkat 0,8% menjadi US$73,34 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium turut mencatat penguatan seiring membaiknya sentimen pasar komoditas.
Di pasar mata uang, indeks dolar Bloomberg bergerak relatif stabil setelah menguat pada sesi sebelumnya. Stabilnya dolar membantu menjaga keseimbangan pasar logam mulia, meskipun arah pergerakan selanjutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga global.
Secara keseluruhan, kenaikan harga emas mencerminkan kombinasi antara optimisme terhadap peluang meredanya konflik Timur Tengah dan minat investor untuk kembali masuk pada area harga yang dianggap menarik. Namun, prospek kenaikan yang lebih besar masih bergantung pada keberhasilan diplomasi regional, normalisasi arus energi global, serta arah kebijakan Federal Reserve. Selama risiko inflasi dan suku bunga tinggi tetap mendominasi, pergerakan emas kemungkinan akan tetap berada dalam fase yang volatil dengan kecenderungan bergerak dalam rentang yang terbatas.
Sumber : www.newsmaker.id
