Harga Emas Menanti Kejelasan Selat Hormuz, Arah The Fed Jadi Penentu Berikutnya

Harga emas dunia bergerak dalam rentang sempit pada perdagangan Asia Selasa, 4 Agustus 2026. Emas spot bertahan di sekitar US$4.052,81 per troy ounce setelah mencatat kenaikan tipis 0,2% pada sesi sebelumnya. Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan terbaru terkait upaya pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.

Fokus utama pasar saat ini tertuju pada negosiasi yang bertujuan memulihkan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali beroperasi normal, pasokan energi global berpotensi meningkat dan tekanan harga minyak dapat mereda. Penurunan harga energi akan membantu menurunkan ekspektasi inflasi global, faktor yang selama beberapa bulan terakhir membatasi kenaikan harga emas meskipun ketegangan geopolitik meningkat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut langkah diplomatik tersebut sebagai peluang terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan. Namun, pemerintah Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan hanya mengakui adanya kemajuan pembicaraan dengan Oman terkait keamanan pelayaran kapal. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini membuat pasar memilih menunggu konfirmasi resmi sebelum mengambil posisi baru di pasar logam mulia.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi penopang penting bagi harga emas. Investor masih mempertahankan sebagian alokasi pada aset safe haven sebagai antisipasi jika proses diplomatik gagal dan ketegangan kembali meningkat. Dalam kondisi seperti ini, emas cenderung mendapat dukungan dari permintaan lindung nilai, meskipun penguatan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong harga menembus area resistance utama.

Dari sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams. Ia menilai tingkat suku bunga saat ini masih sesuai dengan kondisi ekonomi karena inflasi diperkirakan akan melambat pada paruh kedua tahun ini. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, meskipun terdapat tiga pejabat yang menginginkan kenaikan sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan di internal bank sentral AS menunjukkan bahwa arah kebijakan berikutnya belum sepenuhnya pasti.

Sikap hati-hati The Fed memiliki implikasi langsung terhadap pasar emas. Suku bunga yang bertahan tinggi cenderung meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan daya tarik emas yang tidak memberikan bunga. Sebaliknya, jika inflasi melandai dan pasar mulai mengantisipasi pelonggaran kebijakan moneter pada 2027, emas berpotensi kembali menarik minat investor institusi.

Citi Research memperkirakan harga emas akan bergerak sideways atau bahkan melemah dalam satu bulan ke depan sebelum berpotensi reli menuju US$4.500 per troy ounce pada kuartal IV 2026. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa konflik geopolitik mereda, dolar AS melemah, dan suku bunga riil menurun. Dengan kata lain, ruang kenaikan emas masih terbuka, tetapi kemungkinan baru akan terlihat setelah ketidakpastian saat ini mulai berkurang.

Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor penting yang perlu dicermati. Melemahnya dolar biasanya membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga meningkatkan permintaan global. Namun, selama pasar masih mencari kejelasan mengenai Selat Hormuz dan arah kebijakan The Fed, fluktuasi dolar diperkirakan tetap terbatas dan belum memberikan dorongan besar bagi harga emas.

Secara teknikal, area US$4.050 menjadi level kunci jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang konsolidasi masih dominan. Resistance terdekat berada pada kisaran US$4.080–US$4.100, sementara support berikutnya berada di US$4.020 hingga US$4.000 per troy ounce. Penembusan salah satu area tersebut berpotensi menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.

Bagi investor dan pelaku pasar, fase saat ini lebih mencerminkan periode konsolidasi daripada awal tren baru. Pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat, baik berupa kepastian diplomatik di Selat Hormuz maupun sinyal yang lebih jelas dari The Fed terkait prospek suku bunga. Selama dua faktor tersebut belum memberikan arah yang tegas, harga emas kemungkinan besar akan tetap bergerak dalam rentang terbatas dengan volatilitas moderat.

Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi inflasi yang mulai mereda, dan kebijakan moneter AS yang masih menunggu data ekonomi berikutnya, emas berada pada titik keseimbangan penting. Dalam jangka pendek, fokus pasar tetap pada perkembangan Selat Hormuz dan komentar pejabat Federal Reserve, sementara prospek jangka menengah masih membuka peluang penguatan menuju area yang lebih tinggi apabila kondisi makroekonomi global berubah lebih mendukung logam mulia.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.