Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026, memperpanjang penurunan untuk hari ketiga berturut-turut. Tekanan utama datang dari meningkatnya optimisme pasar bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin mendekati realisasi. Perkembangan diplomatik tersebut memicu aksi jual lanjutan karena investor mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak.
Kontrak Brent pengiriman Oktober turun sekitar 0,6% menjadi US$78,92 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September melemah sekitar 0,7% ke US$75,24 per barel. Penurunan ini terjadi setelah dua sesi sebelumnya mencatat koreksi sangat tajam, dengan Brent dan WTI sama-sama kehilangan lebih dari 10% nilainya. Pada penutupan Selasa, Brent merosot 5,3% ke US$79,36 per barel dan WTI anjlok 5,7% ke US$75,77 per barel setelah muncul laporan mengenai kemajuan pembicaraan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen pasar membaik setelah pejabat Amerika Serikat dan Qatar menyampaikan bahwa terdapat perkembangan dalam proses negosiasi. Qatar mengungkapkan bahwa rancangan proposal awal telah dipertukarkan antara Washington dan Teheran melalui sejumlah mediator. Selain itu, Iran dan Oman dilaporkan membahas mekanisme jalur aman sementara bagi kapal-kapal yang keluar masuk Teluk Persia. Meski belum tercapai kesepakatan final, langkah tersebut dianggap sebagai sinyal positif menuju normalisasi lalu lintas energi di kawasan.
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat strategis bagi pasar energi global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Setiap gangguan di jalur ini biasanya langsung memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terhadap pasokan global. Sebaliknya, prospek pembukaan kembali jalur pelayaran membuat pasar mulai memperkirakan bahwa risiko gangguan pasokan akan berkurang secara signifikan.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi sejumlah hambatan besar. Persoalan program nuklir Iran tetap menjadi titik utama yang belum terselesaikan dalam negosiasi. Selama isu tersebut belum menemukan jalan keluar, kemungkinan terjadinya ketegangan baru tetap terbuka. Karena itu, sebagian analis menilai bahwa penurunan harga minyak saat ini lebih mencerminkan pengurangan premi risiko daripada perubahan fundamental jangka panjang yang sepenuhnya aman.
Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari sisi pasokan Amerika Serikat. Laporan awal industri menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 2,7 juta barel pada pekan lalu. Stok di Cushing, Oklahoma, yang menjadi titik pengiriman utama kontrak WTI, juga dilaporkan naik sekitar 2,4 juta barel. Jika angka tersebut dikonfirmasi oleh data resmi pemerintah AS, pasar akan melihat adanya peningkatan pasokan jangka pendek pada saat risiko gangguan Selat Hormuz justru mulai mereda.
Kenaikan persediaan minyak mentah AS menjadi perhatian penting karena menunjukkan bahwa permintaan domestik mungkin tidak cukup kuat untuk menyerap pasokan tambahan. Dalam kondisi harga yang sudah melemah, data stok yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat sentimen bearish dan mendorong spekulan menambah posisi jual.
Dari perspektif fundamental, pasar minyak saat ini menghadapi kombinasi faktor yang cenderung menekan harga. Pertama, risiko geopolitik di Timur Tengah mulai menurun. Kedua, pasokan AS menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Ketiga, investor masih memantau prospek pertumbuhan ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat ruang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas.
Bagi negara-negara pengimpor energi, pelemahan harga minyak dapat memberikan dampak positif melalui penurunan biaya impor dan berpotensi mengurangi tekanan inflasi. Namun, bagi negara pengekspor minyak, koreksi tajam ini dapat menekan penerimaan ekspor dan pendapatan fiskal apabila berlangsung dalam periode yang lebih panjang.
Pelaku pasar kini menunggu dua katalis utama berikutnya, yakni konfirmasi data persediaan minyak resmi Amerika Serikat dan perkembangan terbaru pembicaraan Washington–Teheran. Data stok yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperpanjang penurunan harga, sedangkan setiap hambatan baru dalam negosiasi dapat memicu rebound cepat karena pasar masih sensitif terhadap risiko geopolitik Timur Tengah.
Secara teknikal, Brent kini bergerak di bawah area psikologis US$80 per barel, level yang sebelumnya menjadi penopang penting selama fase ketegangan geopolitik. Selama harga bertahan di bawah level tersebut, tekanan jual diperkirakan masih dominan. WTI juga menghadapi tantangan serupa di sekitar area US$76–US$77 per barel.
Dengan kondisi saat ini, pasar minyak memasuki fase penyesuaian ulang ekspektasi setelah sebelumnya diperdagangkan dengan premi risiko geopolitik yang tinggi. Arah harga dalam beberapa hari mendatang akan sangat ditentukan oleh kepastian pembukaan Selat Hormuz dan validasi data persediaan minyak AS. Selama kedua faktor tersebut tetap mendukung peningkatan pasokan global, harga minyak berpotensi melanjutkan tren pelemahan jangka pendek.
Sumber : www.newsmaker.id
