Ketegangan Selat Hormuz Meningkat, Harga Brent Tembus US$95 per Barel

Harga minyak mentah kembali menguat untuk sesi ketiga berturut-turut pada perdagangan Rabu (2/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz. Harga minyak Brent naik sekitar 1% menjadi US$95,60 per barel setelah sebelumnya melonjak 4,6% pada Selasa. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak naik hingga US$91,12 per barel. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar semakin memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga energi akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.

Lonjakan harga Brent ke atas US$95 per barel menjadi perhatian karena terjadi dalam waktu singkat. Kenaikan tiga sesi beruntun memperlihatkan bahwa tekanan beli belum mereda, terutama setelah muncul perkembangan militer terbaru yang kembali meningkatkan risiko terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk. Jika ketegangan terus meningkat dan menghambat pergerakan kapal tanker, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan naik yang lebih besar.

Katalis utama penguatan minyak berasal dari serangan baru Amerika Serikat terhadap target militer Iran. Presiden Donald Trump menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap upaya Iran memasang ranjau di Selat Hormuz serta serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat. Trump juga memperingatkan bahwa Washington dapat melancarkan serangan tambahan apabila Iran melakukan tindakan balasan.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan konflik yang semakin luas. Risiko terbesar bagi pasar minyak bukan hanya serangan terhadap fasilitas militer, tetapi potensi dampaknya terhadap infrastruktur energi dan jalur perdagangan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis paling penting bagi pasar energi global, sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memberikan konsekuensi jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Iran kemudian mengklaim telah melakukan serangan terhadap Yordania, Bahrain, dan Kuwait, yang diketahui menjadi lokasi keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan ketidakpastian mengenai arah konflik karena membuka kemungkinan terjadinya rangkaian serangan balasan yang lebih panjang antara kedua negara dan sekutunya.

Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menyatakan bahwa eskalasi terbaru semakin membatasi akses menuju Selat Hormuz. Sebelum konflik meningkat, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair atau LNG dunia. Besarnya volume energi yang melewati kawasan tersebut menjadikan setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran sebagai faktor yang sangat sensitif bagi harga minyak global.

Namun, klaim mengenai pembatasan akses di Selat Hormuz masih berhadapan dengan fakta bahwa arus minyak tetap berlangsung. Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent membantah anggapan bahwa Iran sepenuhnya mengendalikan selat tersebut. Menurutnya, sekitar 17 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz pada Senin. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun risiko keamanan meningkat, jalur energi tersebut belum mengalami penghentian total.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi pasar minyak. Di satu sisi, risiko serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi mendorong harga naik karena investor mengantisipasi potensi gangguan pasokan. Di sisi lain, fakta bahwa jutaan barel minyak masih dapat melewati Selat Hormuz menunjukkan bahwa gangguan fisik terhadap pasokan global belum sepenuhnya terjadi. Selama ekspor tetap berjalan, kenaikan harga berpotensi lebih banyak mencerminkan premi risiko daripada kekurangan pasokan aktual.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapatkan dukungan dari laporan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Stok minyak mentah AS dilaporkan turun sekitar 2,6 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut berpotensi menjadi penurunan pertama dalam lima pekan dan memberikan sinyal bahwa permintaan atau penarikan persediaan mulai memberikan dukungan tambahan terhadap harga minyak.

Penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat menjadi penting karena pasar energi menggunakan data stok sebagai salah satu indikator keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Jika persediaan terus berkurang, pasar dapat menilai bahwa kondisi pasokan lebih ketat daripada sebelumnya. Ketika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya risiko geopolitik, harga minyak dapat memperoleh dukungan dari dua sisi sekaligus.

Pergerakan Brent menuju US$95,60 juga meningkatkan perhatian terhadap potensi dampaknya terhadap inflasi global. Minyak merupakan komponen penting dalam biaya transportasi, produksi, logistik, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Kenaikan harga energi yang berkelanjutan dapat meningkatkan biaya perusahaan dan pada akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa.

Jika harga minyak terus meningkat, tekanan inflasi dapat menjadi lebih sulit dikendalikan oleh bank sentral. Bagi Federal Reserve, kenaikan harga energi dapat memperumit keputusan mengenai suku bunga karena inflasi yang lebih tinggi berpotensi mengurangi ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter. Pasar bahkan dapat kembali meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga apabila lonjakan harga minyak dianggap berisiko menciptakan tekanan inflasi yang persisten.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar AS. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan mendorong imbal hasil Treasury naik. Jika yield obligasi pemerintah AS meningkat, investor dapat kembali mengurangi eksposur terhadap aset yang tidak memberikan bunga, termasuk emas.

Harga emas dengan demikian dapat menghadapi dinamika yang bertolak belakang. Eskalasi konflik AS-Iran dan meningkatnya risiko di Selat Hormuz biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, jika lonjakan harga minyak menyebabkan inflasi meningkat, yield Treasury naik, dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menguat, tekanan dari sisi makroekonomi dapat mengimbangi manfaat safe haven tersebut.

Pasar saham juga berpotensi terdampak apabila harga minyak bertahan di level tinggi. Kenaikan biaya energi dapat menekan margin perusahaan, terutama sektor yang memiliki konsumsi energi besar. Pada saat yang sama, suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pembiayaan dan menekan valuasi saham. Kombinasi inflasi, yield tinggi, dan risiko geopolitik dapat membuat investor lebih defensif dalam mengalokasikan modal.

Dalam jangka pendek, arah harga Brent dan WTI akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di sekitar Selat Hormuz. Setiap serangan baru terhadap kapal tanker, upaya penutupan jalur pelayaran, atau kerusakan terhadap infrastruktur energi dapat mendorong harga lebih tinggi. Sebaliknya, jika aktivitas pelayaran tetap berjalan dan risiko militer mulai mereda, premi geopolitik dapat berkurang dan memberikan ruang bagi harga minyak untuk kembali terkoreksi.

Level US$95 per barel kini menjadi area penting bagi Brent setelah harga berhasil menembusnya. Kemampuan harga untuk bertahan di atas level tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat menunjukkan bahwa momentum bullish masih kuat. Jika tekanan geopolitik terus meningkat, Brent berpotensi menguji level psikologis US$100 per barel. Namun, apabila pasokan tetap lancar dan ketegangan mulai mereda, kenaikan tajam sebelumnya dapat memicu aksi ambil untung.

Dengan Brent mencapai US$95,60 per barel dan WTI berada di US$91,12, pasar minyak memasuki fase yang semakin sensitif terhadap berita geopolitik. Risiko terhadap Selat Hormuz menjadi faktor utama, sementara penurunan persediaan minyak AS memberikan dukungan tambahan. Namun, kemampuan harga untuk mempertahankan kenaikan akan tetap bergantung pada apakah ancaman terhadap jalur perdagangan energi berubah menjadi gangguan pasokan yang benar-benar signifikan.

Kenaikan minyak juga membawa konsekuensi lebih luas terhadap pasar keuangan global. Jika harga energi terus melonjak, tekanan inflasi dapat meningkat, ekspektasi suku bunga The Fed dapat berubah lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat, dan yield Treasury dapat naik. Rangkaian efek tersebut dapat memberikan tekanan terhadap saham dan emas, meskipun ketidakpastian geopolitik pada saat yang sama tetap menjaga permintaan terhadap aset safe haven.

Memasuki September 2026, Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar energi dunia. Selama ancaman terhadap kapal dan infrastruktur energi tetap tinggi, harga minyak memiliki bias kenaikan. Namun, data bahwa sekitar 17 juta barel minyak masih berhasil melewati selat menunjukkan bahwa gangguan pasokan secara penuh belum terjadi. Karena itu, perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu utama apakah Brent hanya mempertahankan premi geopolitik di sekitar US$95 atau melanjutkan kenaikan menuju US$100 per barel.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.