Harga emas kembali melemah setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dan tidak memberikan banyak petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, pasangan XAU/USD bergerak di sekitar US$4.045 per troy ounce. Pelaku pasar masih mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, terutama pada pertemuan kebijakan Desember mendatang.
Keputusan The Fed tersebut secara umum telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengambil keputusan dengan hasil pemungutan suara 10 berbanding 2 untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai rencana pengurangan jumlah pertemuan pengambilan keputusan suku bunga memunculkan pertanyaan baru di kalangan investor. Perubahan frekuensi pertemuan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian dalam membaca arah kebijakan moneter, terutama ketika tekanan inflasi dan kondisi ekonomi masih menjadi perhatian utama.
Bagi investor emas, kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember tetap menjadi faktor yang membebani harga. Tingginya harga energi membuat upaya pengendalian inflasi semakin sulit, sehingga ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat masih bertahan. Suku bunga tinggi umumnya memberikan tekanan terhadap emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan bunga atau pendapatan berkala. Ketika imbal hasil aset berbunga meningkat, biaya peluang untuk memegang emas juga menjadi lebih besar, sehingga sebagian investor dapat memilih untuk mengalihkan dana ke instrumen lain.
Perhatian pasar kini beralih ke data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, yang menjadi salah satu indikator inflasi utama bagi The Fed. Data tersebut diperkirakan memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan tekanan harga dan membantu investor memperkirakan langkah bank sentral pada pertemuan Desember. Jika inflasi tetap tinggi, peluang pengetatan kebijakan moneter dapat kembali menguat dan menekan harga emas. Sebaliknya, perlambatan inflasi berpotensi mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga serta membuka ruang bagi pemulihan XAU/USD.
Selain kebijakan suku bunga, emas juga rentan terhadap tekanan jual di pasar saham. Kekhawatiran mengenai besarnya investasi perusahaan dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta dampaknya terhadap arus kas dan profitabilitas perusahaan, dapat memicu volatilitas di pasar ekuitas. Ketika harga saham mengalami penurunan tajam, investor terkadang menjual aset lain, termasuk emas, untuk memperoleh likuiditas dan menutup kerugian pada portofolio mereka. Kondisi tersebut membuat emas tidak selalu mengalami kenaikan meskipun ketidakpastian pasar meningkat.
Sepanjang Oktober, harga emas terus menghadapi tekanan setelah sebelumnya mencatatkan reli. Pelemahan ini menunjukkan bahwa momentum kenaikan logam mulia mulai terbentur oleh kombinasi ekspektasi suku bunga tinggi, penguatan dolar AS, dan volatilitas pasar saham. Dengan demikian, perkembangan emas saat ini tidak hanya ditentukan oleh permintaan terhadap aset lindung nilai, tetapi juga oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter dan kebutuhan likuiditas investor.
Di sisi lain, Bloomberg Dollar Index tercatat turun 0,1%, sehingga memberikan sedikit ruang bagi emas untuk menahan tekanan. Pelemahan dolar dapat membuat emas yang dihargakan dalam mata uang AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Namun, dukungan tersebut masih terbatas selama pasar terus mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Ke depan, arah pergerakan XAU/USD akan sangat bergantung pada hasil data inflasi PCE Amerika Serikat dan bagaimana investor menafsirkan sinyal kebijakan The Fed. Apabila inflasi tetap persisten dan ekspektasi kenaikan suku bunga Desember meningkat, harga emas berisiko menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan tersebut dan mendorong pemulihan. Untuk sementara, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati sambil menunggu konfirmasi mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjelang akhir tahun.
Sumber : www.newsmaker.id
