Harga minyak dunia menguat lebih dari 2% pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, setelah laporan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi global. Minyak mentah Brent naik ke US$116,26 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$103,53 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar energi akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan menggunakan rudal terhadap salah satu kilang minyak terbesar di Arab Saudi. Fasilitas tersebut dilaporkan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari. Namun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung mengenai serangan terhadap fasilitas tersebut. Ketidakjelasan informasi ini membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi, terutama karena gangguan terhadap fasilitas energi utama berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan memperbesar volatilitas harga.
Penguatan harga minyak terjadi setelah pasar mengalami penurunan hampir US$2 per barel pada perdagangan Selasa. Meski sempat terkoreksi, harga minyak masih ditopang oleh premi risiko yang mencerminkan kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Investor juga menantikan kejelasan mengenai langkah yang akan diambil Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Setiap perkembangan yang mengarah pada eskalasi konflik berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan tersebut.
Analis ING menilai bahwa premi risiko yang saat ini tercermin dalam harga minyak berpotensi mulai berkurang apabila periode pemilu Amerika Serikat berlalu tanpa serangan baru yang melibatkan Iran. Namun, selama ancaman eskalasi masih berlangsung, harga minyak diperkirakan tetap bertahan pada level tinggi. Dengan demikian, arah pasar tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran, tetapi juga oleh perkembangan diplomatik dan risiko keamanan yang dapat mengganggu produksi maupun distribusi energi.
Dari sisi persediaan Amerika Serikat, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah turun sekitar 2,03 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 23 Oktober. Penurunan persediaan tersebut dapat memberikan dukungan terhadap harga karena mengindikasikan berkurangnya pasokan yang tersimpan. Namun, hasil ini berbeda dengan survei Reuters yang memperkirakan adanya kenaikan tipis persediaan. Investor kini menunggu laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasokan minyak mentah di Amerika Serikat.
Selain data persediaan, perhatian pasar tertuju pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan. Negara-negara produsen utama diperkirakan mempertahankan target produksi untuk Desember. Jika keputusan tersebut sesuai ekspektasi, dampaknya terhadap harga minyak akan bergantung pada perkembangan permintaan global dan kondisi pasokan dari wilayah lain. Pasar juga memantau kemungkinan penurunan ekspor minyak Rusia melalui pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam seiring meningkatnya produksi diesel domestik Rusia. Apabila penurunan ekspor benar-benar terjadi, pasokan minyak yang tersedia di pasar internasional berpotensi semakin terbatas.
Ke depan, pergerakan Brent dan WTI akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, konfirmasi mengenai serangan di Arab Saudi, laporan persediaan resmi EIA, serta keputusan OPEC+. Jika risiko gangguan pasokan meningkat, harga minyak berpotensi kembali menguat dan bertahan pada level tinggi. Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik dan berkurangnya kekhawatiran terhadap distribusi energi dapat mendorong koreksi harga. Dalam kondisi saat ini, ketidakpastian pasokan masih menjadi faktor utama yang menjaga volatilitas pasar minyak dunia tetap tinggi.
