Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer lanjutan terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu pada 3 November mendatang. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 0,5% menjadi US$111,44 per barel pada pukul 08.20 waktu Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7% ke level US$102,73 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa seorang komandan senior militer AS telah memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai sejumlah opsi operasi militer terhadap Teheran.
Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengorbankan kepentingan utama dalam proses negosiasi untuk mengakhiri konflik. Pernyataan tersebut muncul setelah Iran mengonfirmasi telah menerima surat dari Wakil Presiden AS, JD Vance, sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian. Namun, belum adanya kesepakatan untuk menghentikan perang membuat investor tetap memperhitungkan kemungkinan terjadinya gangguan pasokan minyak global.
Situasi keamanan di Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian utama pasar energi. Laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran jalur distribusi minyak internasional. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan ini dapat memengaruhi pasokan dan meningkatkan biaya pengiriman. Selama risiko keamanan belum mereda, pasar kemungkinan akan tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Di tengah ketidakpastian tersebut, harga Brent telah meningkat sekitar 12% sepanjang Oktober dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan, persediaan minyak global yang masih rendah serta terbatasnya pasokan produk olahan tetap memberikan dukungan terhadap harga. Kondisi ini menunjukkan bahwa membaiknya distribusi minyak belum sepenuhnya menghilangkan risiko kenaikan harga energi dunia.
Selain konflik di Timur Tengah, aktivitas industri energi di kawasan tersebut masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian keamanan. Perkembangan konflik Rusia dan Ukraina juga menjadi faktor tambahan yang terus dipantau investor karena berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan energi global. Kombinasi berbagai risiko tersebut membuat pasar minyak tetap rentan terhadap perubahan sentimen, terutama ketika jalur distribusi dan kapasitas pasokan menghadapi tekanan secara bersamaan.
Ke depan, arah pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada keputusan Washington terkait Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada 3 November. Apabila operasi militer kembali dilanjutkan dan mengganggu jalur pelayaran energi, harga Brent berpotensi mengalami kenaikan lebih lanjut. Sebaliknya, keberhasilan diplomasi dan tercapainya kesepakatan untuk menghentikan konflik dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak, sehingga membuka peluang terjadinya koreksi.
Bagi perekonomian global, harga minyak yang bertahan tinggi dapat menimbulkan tekanan inflasi tambahan melalui kenaikan biaya energi, transportasi, dan produksi. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar beban perusahaan maupun konsumen, sekaligus membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Dengan demikian, perkembangan hubungan AS dan Iran, keamanan Selat Hormuz, serta kondisi pasokan energi global akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan harga Brent dan WTI dalam beberapa pekan mendatang.
