Harga emas bergerak di sekitar US$4.100 per troy ounce pada perdagangan Kamis (8 Oktober), bertahan di dekat level terendah yang belum terlihat sejak awal Agustus. Tekanan terhadap logam mulia kembali meningkat setelah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun masih terbuka.
Risalah rapat The Fed pada September menunjukkan bahwa seluruh 19 pejabat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut. Sebagian besar pejabat juga menilai bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin masih diperlukan sebelum akhir tahun untuk memastikan tekanan inflasi tetap terkendali. Sikap tersebut memperkuat pandangan bahwa siklus pengetatan kebijakan moneter belum sepenuhnya berakhir.
Pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di sekitar 78%. Ekspektasi tersebut menjadi beban bagi harga emas karena semakin tingginya peluang suku bunga membuat aset berbasis bunga dan obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Harga energi menguat setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran, yang berpotensi dilaksanakan sebelum pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.
Meningkatnya ketegangan tersebut kembali mengarahkan perhatian pasar terhadap keamanan pasokan energi dari Timur Tengah. Risiko terhadap aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz masih tinggi meskipun arus minyak dari kawasan tersebut dilaporkan telah kembali mendekati tingkat sebelum konflik. Setiap gangguan baru terhadap jalur perdagangan strategis tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi.
Kenaikan harga energi menjadi risiko penting bagi prospek inflasi karena biaya minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan harga secara luas. Apabila inflasi kembali menguat akibat energi, Federal Reserve berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga tambahan.
Kombinasi antara ekspektasi kenaikan suku bunga dan tingginya harga minyak membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih menghadapi tekanan. Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang tinggi juga dapat memperbesar tekanan terhadap XAU/USD karena meningkatkan biaya peluang memegang emas.
Level US$4.100 per troy ounce kini menjadi area penting bagi pergerakan harga emas. Jika harga mampu bertahan di sekitar level tersebut, pasar masih memiliki peluang melihat upaya pemulihan ketika tekanan dari dolar dan yield mulai mereda. Namun, apabila level tersebut gagal dipertahankan, risiko emas melanjutkan penurunan ke level yang lebih rendah akan semakin besar.
Untuk sementara, arah emas akan sangat bergantung pada perubahan ekspektasi kebijakan The Fed dan perkembangan risiko geopolitik di Timur Tengah. Selama pasar masih melihat adanya ruang bagi The Fed untuk memperketat kebijakan dan harga minyak tetap tinggi, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut.
Sumber : www.newsmaker.id
